Sudah Mengembangkan Bakat Apa Hari Ini?

Semua orang memiliki bakat, tetapi tidak semua orang mengembangkan bakatnya. Bukan karena tidak ada kesempatan atau uang, melainkan karena tidak ada kemauan yang cukup untuk disiplin, konsistensi dan tetap unik sesuai bakatnya.

Pertama disiplin.
Disiplin bisa digambarkan sebagai ‘memaksakan diri pada awalnya, menjadikannya sebagai kebiasaan, sampai akhirnya orang lain melihatnya sebagai hobi yang seperti candu’.

Dalam hobi menulis, kita tahu bahwa menulis itu mengasyikkan. Apalagi kalau untuk sosmed: gemerlap komen dan like dari teman-teman membuat kita serasa bintang populer dengan sejuta abrek fans. Tetapi begitu masuk ke sebuah proyek penulisan, misalnya ingin membuat buku atau cerpen, tiba-tiba saja kita seperti masuk ke ruang sidang… sebagai terdakwa. Bete, kesal, marah, putus asa, dsb dll dst….

Perasaan yang sama juga hinggap pada orang-orang yang latihan vokal, membentuk group band, meracik kopi istimewa, mempertahankan kelangsungan kafe, dan sebagainya. Lebih banyak orang yang berkata bahwa dirinya berbakat dalam bidang tertentu daripada orang yang bekerja… aktif menunjukkan bakatnya. Dan, anehnya, kita merasa bangga ketika diakui berbakat meski karya yang dihasilkan bakat itu belum pernah ada. 🙂

Kedua konsistensi.
Sebenarnya konsistensi merupakan kelas dua dalam proses melatih disiplin. Artinya tanpa dibahas tersendiri pun, asal kita memang disiplin, otomatis konsistensi ini lahir sendiri. Konsistensi berarti mau sakit, mau susah, mau bete, mau kepala pecah, yang namanya jadwal nulis ya nulis.

Yang namanya target 4 halaman ya 4 halaman. Mau diakalin satu halaman hanya berisi satu kalimat, satu kata, atau satu tanda baca pun. Yang penting konsisten. Setiap hari nulis misalnya 4 halaman minimal.

Yang ketiga keunikan sesuai bakatnya.
Sudah umum dimana-mana, sukses itu berarti uang, harta, jabatan, keluarga, dan semacamnya. Masalahnya, kesuksesan orang berbakat itu sering kali unik.

Kalau aku sendiri orangnya cepat puasan. Nulis dibaca satu orang saja sudah merasa sukses. Tapi standar begini tentu saja ditolak umum. Bagi umum, jangan ngaku sukses lah kalau tulisan cuman dibaca satu orang. Jangan dulu gembira kalau tulisan belum diterbitkan dan jadi best seller (aneh gembira kok dilarang). Jangan ngaku penulis kalau belum punya duit banyak.

Nah, misalnya kita mengambil dunia penulis, siapkah kita untuk menjadi unik? Mengabaikan kata-kata orang, sibuk dengan kesuksesan dan keasyikan kita sendiri…?

Satu lagi yang terakhir… selalu belajar kreatif.
Kebanyakan orang berbakat merasa bahwa kreatifitas adalah dirinya sendiri. Artinya tidak perlu belajar dia sudah pasti kreatif, karena sudah dari sononya begitu. Yah, kita tahu ini adalah proklamasi kebodohan yang paling konyol. Bagaimana akan kreatif kalau orang sudah merasa dirinya kreatif? To create itu kan mencipta, membuat hal baru. Lah kalau merasa ‘sudah’ kreatif, berarti tidak mencipta lagi dong? Tidak ada hal baru lagi dong…?

Orang harus selalu belajar kreatif, karena dunia ini luas. Merasa sudah kreatif sama saja dengan mengurung diri. Mungkin tidak salah mengurung diri, asal ada yang menyediakan makanan dan minuman. Tanpa itu, mengurung diri berarti isdet…

Nah termasuk kreatif adalah belajar mengubah karya menjadi uang. Lho kok jadi begini? Yah… siapa sih yang hari ini bisa hidup tanpa uang? Bahkan petani yang makan dari hasil tanamannya dan memupuk cuman pakai pupuk kandang pun tetap perlu uang…. Begitu juga Anda sebagai orang berbakat, Sobat…. Bakat tidak cukup untuk membuat kita kenyang, tidak cukup untuk membuat kita datang ke reuni, apalagi menyekolahkan anak ke sekolah kapitalis berlabel religi terpadu.

Meskipun agak ribet dan berat, tetapi semua orang berbakat memang harus kreatif mengubah karyanya menjadi uang, minimal sampai kebutuhan dasarnya tercukupi (dan kebutuhan dasar itu ‘relatif’, karena beberapa penulis berbakat lebih suka ngopi daripada pesta, tapi ngopinya di starbuck, hehe).

Mengubah karya menjadi uang sendiri merupakan bakat. Ia merupakan seni tersendiri, dan semua orang harus mempelajarinya meski ia adalah seorang aktivis anti kapitalis liberal sekalipun. Sekian tulisan hari ini. Terima kasih sudah mampir dan baca sampai kalimat terakhir, padahal ada begitu banyak website lain di dunia maya ini.

Advertisements

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s