Nom de plume

Still talking about my debut novel, one email arrived weeks ago, from my editor, said that i need to change my name. First taught was… ‘really??’ He said that my name was less commercial and too ‘middle east’. Didn’t suit the theme of the novel itself. Hahaha. Mengganti sebuah nama bukan masalah bagi saya. Justru asyik ternyata, jarang kan kita memilih sebuah nama untuk diri sendiri? Ini namanya wonderful privilege, ya meskipun cuman sebuah nama pena atau nom de plume.

Nama adalah identitas, di luar itu memang seperti kata orang, nama berisi doa/harapan. Jadi tidak bisa main-main dalam memberi nama. Dan yang saya cari adalah nama yang paling meaningful dan keren. Nah lho, kira-kira apa ya?

Sebelumnya saya memang sudah pengalaman memberi nama, misalnya kepada beberapa ikan dan kura-kura yang dulu pernah hidup beberapa saat di kosan sewaktu kuliah. Tapi sepertinya ditolak sama mereka, karena ikan gak pernah noleh saat saya panggil dan kura-kura juga acuh saat saya dekati. Padahal nama mereka keren lho, ada Micah, Capt. Witwicky, Barbossa, sampe Leah Dizon, semuanya saya cuplik dari nama-nama di film paling keren saat itu (dan abaikan nama yang terakhir, ppfftt…)

Saya juga pernah memberi nama pada ponakan saya yang pertama, Shoffi Attaqya, dan dipake lho sampe sekarang. Hohoho. *senyum bangga om-om* Dan lagi, bukannya saya juga memberi nama untuk tokoh-tokoh di novel saya? Ya..ya..ya… sepertinya memang mudah memberi nama.

Namun setelah saya pikir-pikir mencari sebuah nama untuk diri sendiri itu ternyata tidak semudah itu. Tidak seperti mengusulkan nama pada orang lain, yang tanpa beban, gampang, take it or leave it. Nama untuk diri sendiri itu seperti memasang tato, kudu cocok motif dan karakter yang kita ingini.

Saya membayangkan kalau memakai nama baru itu ibarat sebuah kelahiran baru bagi saya. Terlebih karena setelah ini saya akan berhasil membuktikan pada diri sendiri tentang passion sebenarnya dalam hidup saya. Inilah yang membuat hal kecil ini menjadi sangat menarik. Dari segala pergolakan batin sejak saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan berusaha mengejar ‘personal legend’, finally i can tell to myself that i am an author. Yuuhuuu!!! Nama baru, jalan hidup baru. 🙂

Nah,ada beberapa nama yang saya nominasikan di kepala saya sendiri, dua hari saya merenungkannya. Tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk tetap memakai nama asli saja. Tapi disingkat. Saya sudah cinta dengan nama pemberian almarhumah ibu kandung saya ini. Berikutnya saya tambah lagi dengan satu nama belakang yang saya ambil dari nama ayah angkat saya.

Dan nama pena saya adalah… *drum roll* …nanti deh, kalau buku saya sudah release. Malu… maklum, masih pemula. >___<

 

(Featured image dari wikipedia.com)

Advertisements

5 thoughts on “Nom de plume

    • miftah says:

      Hehehe… kok tahu? 😀
      ndak papa kok, saya yg terimakasih atas ilmu2 dari Philocoffee yg banyak saya ambil, sbg bahan novel jg buat bekal saya kalau jadi barista nanti (pengennya) Hihihihi. 😀

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s