Siawase no Pan (Bread of Happiness) – Film review

Bread of Happiness, sesuai namanya roti-soti sajian dari Kafe Mani milik pasangan Mizushima ini memang membawa kebahagiaan bagi yang menikmatinya. Roti yang sederhana, diolah dengan rasa cinta yang mendalam akan sebuah profesi, setiap sobekan dan gigitan dari roti ini ternyata mampu membawa perasaan senang dan tenang. Kalau di hati ada yang empet, bisa langsung plong. Kalau ada rahasia yang menyesakkan, bisa langsung luber dan lega. Kalau ada pikiran yang ruwet, bisa langsung gamblang dan tentram. Tentunya ini  semua tersaji tanpa bantuan jampi-jampi, apalagi kemenyan dan sesaji. Karena ini hanyalah sebuah cerita tentang roti… hehehe.

Seperti kebanyakan film jepang sejenis, misal Rinco’s Restaurant, Kamome Diner, Megane, tema umumnya adalah apresiasi terhadap kehidupan, diri sendiri, dan orang sekitar.

Nama Kafe Mani berasa dari dongeng Jepang tentang seorang anak bernama Mani yang berteman dengan bulan. Di mana ada Mani, di situ ada bulan, di mana ada bulan, di situ ada Mani. Maka dari hal sederhana inilah cerita itu dimulai, di mana ada Rie Mizushima (istri) di situ ada Sang Mizushima (suami). Mereka pindah dari Tokyo untuk membangun sebuah kafe kecil di pinggir danau (which’s the view is breathtaking). Mizushima bertugas untuk membuat roti segar setiap hari, sedangkan Rie menyajikan kopi yang di-ground sendiri pakai grinder manual dan hanya memakai metode pourover pake saringan seperti yang biasa dilakukan orang-orang Italia. Hampir sama sih dengan metode di warung-warung kopi di Aceh, hanya saja besarnya saringan berbeda. Orang Italia memakai satu saringan kecil untuk satu gelas. Sedangkan di Aceh satu saringan besar untuk bergelas-gelas kopi. Tatapi dari segi atraksi, metode Aceh ini lebih… Eh, STOPPP!!! Kenapa jadi ke Aceh segala ya? Maaf, kalau sudah ngomongin kopi jadi over-nafsu. >___<

Oke, kembali ke kafe Mani, di lantai dua kafe ini ada sebuah kamar yang bisa disewa untuk pengunjung yang datang dari tempat jauh. Nah, dari sinilah muncul tamu-tamu yang datang dengan penuh masalah, tapi kemudian pulang dengan mulut tersenyum lebar. Setidaknya ada tiga tamu bermasalah yang mampir ke kafe Mani. Mereka adalah Saito si gadis metropolitan, Miku si anak SD, dan terakhir pasangan kakek-nenek Sakamoto. Mereka inilah yang menjadi tulang punggung cerita di film ini. Membagi durasi 114 menit menjadi tiga bagian untuk membahas masalah dan kisah mereka.

Ide utama cerita ini sebenarnya bisa dikatakan mirip dengan Rinco’s Restaurant. Nikmat dan hangatnya makanan seakan mampu melelehkan emosi dan segala keganjalan hati. Masalah Saito, Miku, juga pasangan kakek-nenek Sakamoto ini tak ayal juga terselesaikan melalui kehangatan roti dan kopi di kafe Mani.

Hmm, kalau begitu make sense-lah wasiat para ibu kepada anak putrinya, pandai-pandailah memasak untuk suami, tembak perutnya, lalu kamu bisa memenangkan hatinya. Hehehe.

Kafe Mani juga memiliki tetangga-tetangga yang sangat baik, ada Yoko si pembuat gelas, pasangan Hirokawa yang berjualan sayur segar, Yoshi si tukang pos, juga Abe sang pemusik. Interaksi mereka di dalam kafe Mani juga turut menegaskan benang merah film ini.

Nah, berbicara tentang interaksi ini sendiri, menurut saya benar-benar mencerminkan sebuah kehidupan desa seperti yang ada di pelajaran PPKN dulu, tentram-aman-damai-gotong royong. Saat Mizushima kehabisan beras, tetangga lain meminjami. Saat Yoko berhasil membuat jenis gelas baru, diam2 dia menghadiahkannya pada Mizushima, so sweet banget kan? mau ngasih hadiah aja pake sembunyi2, biar surprise gitu. Sebagai balasannya, Mizushima sendiri juga sering menyajikan roti dan kopi, gratis sepertinya. Ada juga satu adegan di mana mereka mengadakan sebuah jamuan bersama dengan membawa bahan-bahan makan dari rumah masing-masing lalu disantap bersama. Benar-benar kayak desa utopia.

Jangan dipermasalahkan kalau ada unsur kenaifan di sini, apalagai logika untung rugi (secara pengunjung tiap hari cuma segelintir orang, masak nutup bep* sih? hehehe). Mereka hidup sederhana, memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada orang lain, bahkan pada mereka yang tidak/baru dikenal. Inilah bagian dari manusia yang kini semakin hilang, rasa peduli. Kalau kita… oke, fine! guweh doang… boro-boro mau peduli, yang ada tuh curiga mulu sama orang asing. Yah, pengalaman sering ketipu sih… T___T

Di desa saya sendiri juga sekarang sudah mulai aneh, orang-orang pada jor-joran (baca: bersaing ngepoll…) pamer harta. Sebelah kanan baru pulang dari hongkong, sebelah kiri sibuk mendaftar ke Arab. Yang lain baru beli mebel baru, yang lainnya langsung borong baju baru, perhiasan baru. Jual sawah, jual tanah, jual rumah kalau perlu. Hahaha… virus urban bikin masyarakat yang polos berubah jadi aneh…

Nah, dengan melihat kesederhanaan di dalam film ini, otak saya rasanya benar-benar seperti sedang berekreasi. Biasanya kan selalu melihat konflik, intrik, tipu-tipu, keculasan, kebencian, dll. Ya di film juga di dunia nyata. Maka sajian seperti Siawase no Pan ini terasa bikin kembali optimis, penuh energi positif, bahwa ada kehidupan sederhana yang menarik seperti itu… and it’s telling me that this is the life i want. Small cafe, hot coffee, warm bread, fresh air… oh, heaven on earth!!!

At last, 5 bintang lah untuk film ini. Ini pandangan subyektif, karena saya suka banget dengan film tentang makanan. Daftar film sejenis ini ada di sini. 🙂

Oh iya, satu lagi, where did i get this film? Sejujurnya, aye donlot… karena DVD original-nya gak ada di mari. Dan filmnya gak tayang juga di mari. Hehehe.

Dan inilah dia, snapshot filmnya, enjoy…

*bep = break even point, atau bahasa pasarnya titik balik modal lah… ;-p

Advertisements

4 thoughts on “Siawase no Pan (Bread of Happiness) – Film review

  1. miftah says:

    ke sana ke mana? Ke pinggir danau?
    Hahahaha… emang keliatan ya? Emang sih, kalau masalah pengen, ya… banget!
    Tapi ragu juga, can i…? can i…? will i…?
    😦

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s