Ceracau kacau

Kata-katamu kudengar semuanya. Aku memperhatikan titik dan komanya. Ada jeda, ada hela, ada tanya. Mulutmu yang naik turun juga tak luput dari tangkapan mataku. Segala ekspresimu juga terjejak jelas. Aku tahu itu. Aku melihat dan mendengar. Hanya saja… otakku tak dapat mengatur masukan impulsmu… Otakku terlalu carut marut.

Aku melihat gambar kartun di sprei yang kau duduki, tersenyum lebar, kupikir sama riangnya dengan apa yang terlukis di wajahmu kala itu. Sambil kau terus berucap tanpa henti, gambar kartun itu turut menari, juga tanpa henti. Mengayun-ayun pikiranku, berebut fokus dengan sampaianmu.

Lalu kau menepuk pundakku, membuang paksa kartunku, menarik separuh wajahku, kembali utuh menghadapmu. Aku kaget, sejenak kukira benar kamu yang menggugahku, ternyata kamu telah beranjak dan kini berganti kumpulan orang-orang itu. Mereka meminta, menuntut, mengharap, seperti biasa. Tiba-tiba saja aku teringat trenggiling, ingin aku bergelung dan menyembunyikan diriku dari mereka. Tidur dalam perlindungan dan berharap sebentar lagi akan datang pagi…

Oh, kamu datang kembali. Masih dengan senyum lebar dan berucap tanpa henti. Aku mendongak untuk meyakinkan diri bahwa itu benar kamu. Benar kamu, tapi kenapa kamu masih dalam bentuk orang-orang itu? Jangan-jangan kamu tidak pernah pergi, hanya otakku yang bermain proyeksi.

Satu dua tiga … sejuta… semilyar… Rasanya aku sanggup bergelung kembali dan menghitung sampai selama itu. Rasanya aku tidak perlu dunia, otakku sudah terlalu ramai.

 

*when i’m in crazy situation

Advertisements

5 thoughts on “Ceracau kacau

  1. didisederhana says:

    Mmmm… mungkin perlu sebuah istirahat?
    IMHO, kalau susah untuk istirahat, coba buat kegiatan yang secara fisik sangat melelahkan (misalnya nantang preman pinggir jalan). Setelah itu kelelahan akan membuat kita bisa istirahat….
    Kadang ketegangan itu bukan karena beratnya masalah. Melainkan kelelahan yang tak teristirahatkan….

  2. Rahmi Wulandiani says:

    Misiii… Salam sok kenal 😀
    Mau numpang stress. Boleh bales ceracau kacaunya gak?
    Oooohh… Boleh? Makasih… Haha

    Apa?! Kau melihatku seperti kartun?! Siapa? Cinderella, Putri Salju, ataukah Gadis Penjual Korek Api? Ahhh… Pasti bukan! Kau mengatakan bahwa kartun di sepraiku tersenyum lebar. Tiga tokoh kartun yang kusebutkan hanya tertawa di akhir cerita.

    Baik… Mungkinkah kartun itu Gadis Berambut Merah dalam cerita Strawberry on Short Cake? Cukup ceria kurasa… Maaf jika aku hanya menerka-nerka. Aku bahkan tak ingat pernah memasang seprai bergambar kartun. Salah memorikah? Yayaya, seseorang yang mencintai kesempurnaan juga terkadang bisa bosan. Persetan dengan nilai seni! Kegilaan bisa saja menyergap alam bawah sadarku secara tiba-tiba hingga matamu menangkap basah tokoh kartun menyebalkan itu. Huh! Memalukan…

    Sebentar, aku mau menerobos lobus otakku. Beraninya orang-orang itu membuatmu terpojok di sudut frustasi. Dapat! Hoho, aku sedang cerdas. Gambar peristiwa itu kudapat dengan cepat. Tahukah? Saat itu aku sedang tak menjadi orang yang kauharapkan. Entah apa yang membuatku seperti bunglon. Melompati semua warna agar kulit ini berubah. Merayapi tanah, menjamahi kebun bunga, merayapi daun talas, dan menaiki dahan jati. Tapi, dunia sepertinya menolakku. Kemudian aku kecewa, sakit hati, dan marah padamu. Begitulah…

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s