Ikhlas (cerpen)

Berapapun tangan yang terulur, tidak akan mampu memungut apa yang telah tertebar dan tidak akan pula sanggup menebar apa yang telah dipungut. Siapa yang mampu menolak lengan takdir? Sekalipun seluruh manusia bermunajat dan mengharap beberapa detik mundur, tiada mungkin merubah apa yang telah direncanakan-Nya.

Lalu tidak adakah kemuliaan dari mereka yang telah berharap? Tidakkah satu saja permohonan itu diijabah-Nya?

Kadang aku ingin meronta ketika mereka biasa berkata, selalu ada rahasia di dalam catatan-Nya. Sungguh, kenyataan ini susah membuatku percaya…

***

Mereka bertiga sholat subuh berjamah. Ketika doa dipanjatkan hampir semuanya melelehkan air mata.

Sinai menangis sesenggukan padahal sehari sebelumnya ia begitu tegar menemui para pelayat yang datang. Dia bahkan masih mampu mengantar kepergian putra kecilnya ke peristirahatan terakhir, walalupun hal itu ia lakukan hanya dengan pandangan yang amat kehilangan.

Kini ia tidak bisa berbohong kalau dirinyalah yang paling terluka. Tangisnya semakin tak tertahan ketika Abi, suaminya, selesai membacakan doa.

“Abi… Mbak Sarah… Maafkan saya…” kata Sinai terbata.

“Sudahlah Nai, kami semua ikhlas…” Sarah memeluk madunya dan membiarkan air mata Sinai membasahi mukenah putihnya.

”Kita tidak dapat menolak takdir…” Abi menambahi.

Sejenak semuanya terdiam. Namun tangisan Sinai belum juga berhenti. Sarah ikut menangis. Abi memandang kedua istrinya yang saling menopang dalam pelukan, tak terasa air matanya benar-benar meleleh.

“Saya merasa menjadi orang yang paling bersalah,” Sinai kembali berbicara. ”Kalau saja saya tidak lalai dan menjaganya dengan baik, mungkin sekarang anak kita masih bermain-main bersama kita…”

”Tapi ingat Nai, ibarat barang yang dititipkan kepada kita, maka sewaktu-waktu pemiliknya hendak mengambil barang itu kita harus merelakannya…” Sarah kembali mencoba menguatkan Sinai.

***

Mungkin benar…

Sejak kapan anak itu menjadi milikku? Sungguh, ya Rabb dia adalah milik-Mu… Hanya milik-Mu… Berkali-kali Sinai berusaha meyakinkan dirinya. Namun air matanya tak juga berhenti mengalir. Ia semakin tersedu dipelukan sarah.

***

Hati Sinai berteriak keras. Ada sekelebat komando yang membuncahkan beragam memori tantang anaknya. Tentang betapa kehadirannya sangat dinantikan Abi juga Sarah. Di tengah ketidakmampuan Sarah memberikan keturunan untuk Abi, anak itulah yang menjadi penguat ikatan dirinya dengan Abi.

Anak itu yang keluar dari rahimnya dan telah ia rawat selama hampir tiga tahun. Kini dia telah berpulang pada Allah melalui penyakit demam berdarah.

Komando itu terus berkoar kemudian menyajikan kembali imaji sang anak. Ada gambaran Abi yang rela berlari pulang dalam hujan untuk segera bertemu dengan anaknya. Terlihat pula Abi yang beberapa kali menunda jadwal dakwahnya hanya untuk dapat bercengkrama dengannya. Ada juga pesona Sarah yang terlihat lucu menaikkan anak itu ke atas punggungnya lalu berjalan merangkak mengelilingi ruangan. Semua begitu mencintainya… semua begitu menyayanginya….

Kini komando itu berbisik lirih. Bisikan itu membuat Sinai bergetar hebat. Sinai meremas ujung kain mukenahnya. Tangisnya makin dalam. Ia berkata dalam hati… semua akan menyalahkannya… semua akan membencinya. Pengikat itu telah tiada, Abi akan segera meningalkan dirinya…

Tangisnya tidak berhenti. Air mata itu terus menetes dan mengharap jawaban.

Kenapa ya Allah…?

***

“Biarkan dia menangis,” Abi berkata. ”Allah tidak akan menyiksa seseorang karena linangan air mata dan tidak pula karena kesedihan hati, tetapi Allah akan menyiksa atau mengasihani seseorang karena apa yang terucap dari mulutnya…”

Sarah memeluk Sinai lebih erat. Kini getaran itu perlahan tenang. Sinai menarik kembali niatan untuk berkeluh kesah dan menyalahkan dirinya. Hatinya lebih lapang dan komando-komando itu mulai menghilang.

”Nai, yakinlah bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita.” Kembali Abi berkata pada dua sosok berangkulan itu. ”Banyak manusia yang merasa serba sial dan tidak pernah beruntung. Itulah kesombongan mereka yang tidak mau mengakui ke-Maha Tahu-an Allah. Janganlah kita berpikir ketika selesai melakukan yang terbaik, maka kita pasti mendapatkan yang terbaik. Ikhlaskan semuanya karena ibadah. Allah jadi alasan dan tujuan. Termasuk berkumpulnya kita bertiga di sini, juga untuk-Nya. Jika kamu mencintai anak kita, maka kamu harus ridho dengan apapun yang ditakdirkan Allah.”

”Nai, kami akan selalu mencintai dan menyayangimu karena Allah. Kami tidak akan meninggalkanmu karena musibah ini…”

Semua kembali tenang. Hati Sinai semakin lapang. Kini hanya iman yang berkuasa dalam hati.

Air mata itu tetap menetes dan mereka terdiam. Namun air mata itu bukanlah air mata sesal atau kecewa. Itu adalah air mata bahagia. Tiga perasaan yang bersatu dan memandang hanya pada satu arah. Perasaan itu yang selalu tersenyum dalam keyakinan bahwa hanya Allah lah yang paling berkuasa…

***

Kemuliaan yang hadir di penghabisan malam, di sela akhir suatu keusahaan. Ia hadir bersama dengan keikhlasan atas segala hasil yang diberikan Allah. Keridhoan akan keputusan-Nya adalah kuncinya. Allahu’alam.

***

Miftahul Khoir. Jakarta, 2008.

Advertisements

2 thoughts on “Ikhlas (cerpen)

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s