Film tentang Makanan

Dalam beberapa hari belakangan saya kembali nyari-nyari lagi film tentang food and beverage dan dapet update-an beberapa film yang saya harus bilang WOW! 🙂

Selain suka dengan bidang f & b saya juga sedang ngerjain sebuah novel dengan tema yang sama. Sambil riset sambil bersenang-senang.

Dulu saya sudah mengumpulkan beberapa film yang telah saya tonton. Saya post di blog lama saya, judulnya Patisserie Coin de Rue. Tapi di blog itu saya menulis ala kadarnya. Sekarang saya mau coba review sedikit, minimal kasi informasi buat sobat yang mungkin suka dengan bidang f & b dan sedang mencari referensi film seperti yang sering saya lakukan, hehe… And here we go… (dalam urutan acak)

1. No Reservations (2007)

Sebenarnya ini adalah film remake dari film Jerman berjudul Mostly Martha (2001). Dibintangi Catherine Zeta-Jones dan Aaron Eckhart, film ini mengisahkan tentang seorang head chef bernama Kate Amstrong yang emosional dan perfeksionis. Suatu ketika kakaknya meninggal akibat kecelakaan dan meninggalkan seorang anak perempuan yang kemudian tinggal bersamanya. Si ponakan tidak bisa berdamai dengannya, alias uring-uringan terus dan menolak Kate yang sipikirnya ‘sok menggantikan’ posisi ibunya yang meninggal.

Kemudian muncul sous chef, Nicholas Palmer, yang kemudian bisa mengambil hati si ponakan, dan of course… bibinya. 🙂

Terus gimana cerita selanjutnya? Nonton sendiri aja ya… hehe.

Info menarik yang saya tahu dari film ini, bahwa ternyata ada perdagangan gelap truffle. Hahaha… Pedagangnya kayak lagi jual ganja. Sampe segitunya ya, pake takut ada polisi segala. Jadi tahu betapa truffle itu adalah benda lux, senjata pamungkas di dapur. 🙂

2. Rinco’s Restaurant (2010)

Film jepang yang asoy geboy. Tentang seorang wanita yang putus cinta kemudian kehilangan suaranya. Dia memutuskan kembali ke kampung halamannya. Kembali berkumpul dengan ibunya yang slebor dan gak akrab dengannya. Dia membuka restoran di halaman belakang rumahnya. Kayak gudang yang terpisah dari rumah utama. Di depan jalan setapak di pegunungan lagi. Nah lo, siapa yang mau beli coba?

But it works! Awalnya cuman ada satu orang yang datang, lalu dilayani dengan benar-benar full service. Quality of the food take control, akhirnya sedikit terkenal dari mulut ke mulut. Tapi cuma nerima satu tamu sehari. Satu reservasi saja, lho…

Dan saya memahami konsep baru lagi tentang restoran, hehe…

3. Cafe (2011)

Sejujurnya saya tidak selesai menamatkan film ini gara-gara DVD yang saya beli macet di tengah jalan, maklum keluaran glodok. :hammer:

Mengisahkan tentang sebuah kafe dan segala kesibukan yang ada di dalamnya. Tentang dua orang barista, drug dealer, lovers, dan tamu-tamu yang sering mampir, ada juga computer geek yang sering online di kafe kemudian bisa ngobrol dengan program dan bertengkar tentang siapa yang jadi avatar siapa yang manusia asli. Nah lo? ribet ya?

Kalau di baca di wiki, film ini ternyata syarat akan makna filosofi yang pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan dan makhluk. No wonder, memang sedikit ada bumbu thrillernya karena di scene awal aja, prolognya udah pake suara tembakan di kafe dan beberapa polisi kemudian datang.

Overall, film ini banyak memberikan gambaran tentang kehidupan kafe dari sudut pandang pengelola kafe dan tamunya, And it gave me enough inspiration though. 😀

4. Mildred Pierce (2011)

Sebenarnya ini adalah sebuah miniseri yang ditayangkan di HBO. Tapi versi DVDnya juga ada kok. Dan jangan tanyakan durasinya y, namanya juga miniseri… lamaaa… >___<

Tapi saya senang nontonnya karena sangat inspiratif. Bercerita tentang seorang wanita bernama Mildred Pierce yang ditinggal pergi suaminya. Ditinggal gitu aja demi selingkuhannya… ck..ck..ck..

Nah pas itu jaman Great Depression atau jaman krismon lah sehingga Mildred sehingga Mildred harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan dua orang putrinya. Dia yang sebelumnya memang ahli membuat pie akhirnya memberanikan diri membuka restoran.

Masalah percintaan, putri yang rebel, kematian, dll menghiasi film ini. Tapi yang paling menarik sih ya kisah entrepreneurship-nya, bagaiman si Mildred membangun restorannya hingga besar dan berekspansi kemana-mana.

Oh iya, kalau mau cari DVD-nya, cari yang udah lolos sensor KPI ya, ;p

5. Rataouille (2007)

Film animasi ini sudah sering diputar di TV. Gak usah kasi review deh ya… hehehe…

6.  Cheeni Khum (2007)

Film India ini mengisahkan tentang seorang Chef yang emosional (emang kebanyakan chef itu kayak gitu ya? hehe). Dia gak terima pas ada pelanggan bilang resepnya tidak otentik. Si pelanggan yang cantik keesokan harinya membawa makanan buatannya dan dikasi ke chef itu dan sang chef mengakui kalau resep pelanggan itu lebih oke.

Singkat cerita, si chef yang diperankan Amitabh Bachan itu jatuh cinta sama pelanggannya. Lalu balik ke india, lalu konflik sama camernya, lalu.. lalu.. nonton sendiri aja ya…? Hehe. Kan gak seru kalau ending-nya saya ceritain semua di sini.

Sesi f & b-nya sih cuman bagian awal-awalnya saja. Habis itu drama seperti film india kebanyakan. Tapi bagus kok, gak ada Tuan Takur apalagi Inspektor Vijay. Yang suka comedy romantic kayaknya bakal suka film ini. 🙂

7. Eat Drink Man Woman (1994)

Meski udah tayang sedjak lebih dari 15 tahun yang lalu, film ini masih asyik di tonton. Besutan sutradara peraih oscar Ang Lee ini memang menyajikan hiburan yang segar dan bikin ngiler. Kebanyang gak sih setiap hari makan enak di rumah, standar sajian kaisar tiongkok sana. Hmmmm… *ngeces*

Sang Ayah yang sudah tua ini memiliki tiga orang putri yang masing-masing punya kehidupan pribadi dan masalah masing-masing. Kehidupan keluarga jadi sedikit renggang, bahkan sering bentrok satu sama lain, terutama kepada sang Ayah.

Film ini banyak menyajikan gambaran chineese food yang tidak melulu mie atau bebek peking. Dekorasi makanannya memang so yesterday, tapi ya memang settingnya di jaman dulu. Tapi tidak berarti membuat berhenti nelen ludah lho… hehehe…

Yang pasti, di film ini banyak teknik memasak yang inspiratif yang bisa ditiru dalam memasak makanan. 🙂

Ada versi Mexicana-nya lho, judulnya Tortilla Soup, remake tahun 2001.

8. Big Night (1996)

Dua orang kakak beradik, Primo dan Secondo, mencoba peruntungan bisnis di Amerika. Berangkat dari negerinya, Italia, mereka membawa skill memasak dan resep otentik untuk diolah dalam sebuah restoran. Primo adalah si koki yang keras kepala dan enggan untuk menyesuaikan cita rasa masakannya dengan lidah orang Amerika. Wal hasil, restoran mereka kalah saing dengan restoran tetangganya yang juga sama-sama perantauan dari Italia.

Selain bumbu dapur, Hollywood juga tak pernah lupa untuk meracik aneka resep asmara dalam jalinan film ini.

Terus, mau tahu bagaimana Primo dan Secondo bisa survive dengan restorannya? Nonton aja filmnya ya…

Eh, iya, ada Mark Anthony, salah satu penyanyi kegemaran saya yang jadi figuran yang bekerja di restorannya Primo dan Secondo. Masih muda dan terlihat sangat cupu. Hahaha…

9. Chocolat (2001)

Film ini dapat 5 nominasi oscar lho. Emang bagus sih. Menceritakan seorang janda dan seorang putrinya yang datang ke sebuah kawasan penduduk di daerah Prancis sana, di mana penduduknya sangat taat dan memegang teguh tradisi. Kayak bangsa-bangsa priyayi gitu.

Si janda bernama Vianne itu adalah seorang chocolatier yang sangat ahli. Ia menyewa sebuah toko kosong untuk tinggal dan berjualan coklat.

Film ini sangat luas. Dalam arti mencakup berbagai karakter dengan permasalahan masing-masing. Vianne dan coklatnya adalah kunci yang mendobrak tradisi kaku itu.

Sangat menarik! Dan saya sayang suka dengan transformasi toko usang menjadi toko coklat yang sangat menarik. Jendela display coklatnya sangat menginspirasi saya untuk membuat hal serupa kalau punya toko nanti. Hehehe…

10. Love Kitchen (2011)

Seorang Chef mendadak super galau karena istrinya meninggal. Ditambah adanya food critics yang menjatuhkannya, dia akhirnya memilih hengkang dari restoran tempat dia bekerja untuk mencari restoran baru dan berusaha membesarkannya. Ia membawa putri kecilnya ke sebuah daerah kecil di England sana dan bertemulah dengan seorang wanita yang ternyata juga seorang food critics.

Bagi yang suka dengan indahnya kota kecil di Inggris seperti saya, film ini benar-benar menjadi rekreasi otak. Kisah suksesnya juga lumayan menginspirasi. So, sangat layak ditonton. 🙂

11. Dinner Rush (2011)

Kalau chef biasa bermasalah dengan food critics, kali ini masalahnya dengan shark loan a.k.a lintah darat. Kisah ini sebenarnya ngglambar, tapi tetap asyik ditonton. Stress di dalam dapurnya benar-benar kerasa.

Seorang sous chef, memiliki masalah uang dengan lintah darat. Sang pemilik restoran meminjamkan uangnya kepada si sous chef itu untuk bayar utang. Eh, ujung-ujungnya uangnya balik lagi ke dia. Mau tahu gimana baliknya? nonton aja ya… 🙂

12. Kamome Diner / Kamome Shokudo (2006)

Ini film Jepang tapi setting-nya di sebuah teluk di Helsinski, Finlandia. Wanita bernama Kamome ini membuka sebuah diner dan menyajikan masakan jepang, tapi tak ada seorangpun yang mampir.

Akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita lain, turis nekat dari negaranya dan menawarinya untuk tinggal sementara. Dua wanita itu akhirnya bekerja sama di restoran tersebut. Hingga muncullah seorang anak muda, manga freak, japan lover, dan bisa bahasa jepang.

Karena dia pelanggan pertama, Kamome memberi dia kopi gratis setiap hari. Dan tanpa malunya, si bocah setiap hari juga datang dan hanya memesan satu kopi saja. Hahaha…

Lalu ada lagi wanita jepang yang akhirnya ‘nyangkut’ di restoran itu. Dan mereka bertiga bahu membahu melayani pelanggan yang mulai berdatangan.

Saya sangat suka film ini. Ide restorannya sederhana. Kopi luwak juga disebut-sebut di film ini. Dan saya sangat terinspirasi dengan cinnamon roll-nya. 😀

13. Today’s Special (2009)

Ini film terciamik. Kenapa? Karena setting-nya di New York! Tempat yang sangat-sangat-sangat ingin saya kunjungi. 😀

Bercerita tentang (lagi-lagi) sous chef bernama Samir yang desperate gara-gara ketika restorannya buka cabang, dia tidak dapat promosi sebagai head chef meski sudah mengabdi beberapa tahun. Karirnya mandeg, mentok sebagai sous chef saja. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mencoba pergi ke Prancis untuk berguru ke chef ternama melalui program apprenticeship.

Belum sempat berangkat, si Samir yang mau pamit ke orang tuanya malah mendapati Bapaknya tiba-tiba sakit jantung dan harus istirahat total. Sementara Bapaknya istirahat, Samir mencoba mengelola sesaat sebuah restoran India milik keluarganya.

kondisinya parah minta ampun. Apalagi koki berjenggot yang bertugas saat itu, ughhh… saya jijik melihat dia berkali-kali meludah ke sebuah kaleng. Apalagi pas rebutan kaleng ludah itu untuk dibuang, hweeekkk….

Tapi itu cuman adegan kecil kok. Sesi lainnya lebih menarik. 🙂

Samir sama sekali tidak tahu menahu tentang masakan india. Beruntung dia bertemu dengan seorang supir taksi yang dulunya adalah chef hebat di Mumbay.

Si sopir bernama Akbar itu membantunya mengelola restoran sampai kemudia Samir bisa pegang kendali. Nah, bagaimana cerita suksesnya bisa terjadi? Jangan lupa nonton ya…?

Satu lagi, tokoh utama beserta keluarganya ini kayaknya muslim. Tapi cara beribadahnya aneh sekali. 😦

14. Patisserie Coin de Rue (2011)

Ini adalah film Jepang tentang perjuangan sebuah toko kue bernama “Coin de Rue” yang hanya menyajikan makanan penutup atau dessert. Toko ini kepunyaan seorang yang ahli sangat di bidang pastry atau sweets. Nah, nama profesi ini adalah pâtissier, untuk pria, atau pâtissière, untuk wanita.

Tokoh utamanya adalah seorang gadis bernama Natsume yang datang ke sebuah toko bernama Patisserie Coin de Rue untuk mencari pacarnya yang bekerja di sana. Natsume sangat kecewa ketika mendapati pacaranya ternyata sudah pindah. Dia enggan balik kampung lalu maksa untuk bekerja di toko itu. Dia sangat keras kepala juga pembelajar yang cepat. Petualangannya di toko itu tidak hanya membuatnya bertemu kembali dengan pacarnya yang mengecewakan, namun juga mendapatkan banyak guru dan teman. Dia juga yang menjadi kunci pertahanan di saat toko itu diambang kebangkrutan.

Cerita ini sangat menarik dan membuat (amat sangat) ngeces melihat tatanan aneka dessert, pastry, dan kue-kue lainnya. Saya banyak belajar banyak hal tentang dunia patisserie yang seperti spesialisasi tertentu dalam dunia kuliner ini. Dan yang paling saya garis bawahi dari film ini, seperti yang pernah saya tulis di blog saya sebelumnya, yaitu:

  • Konsep toko yang lebih mirip kafe. Di situ diperlihatkan bahwa kebanyakan customer memilih untuk take away atas panganan yang dijual, namun toko tetap menyediakan beberapa meja-kursi untuk tamu yang mau dine-in. Yang saya tahu juga, memang toko pastry atau bahkan yang khusus dessert emang kebanyakan tidak menyediakan banyak kursi.
  • Free Coffee. Di sebuah pojokan ada meja set yang menyediakan satu teko kopi beserta gelasnya. Konsepnya self service dan tentunya gratis. Nah, kalau saya mau jual kue atau roti, kayaknya trik complementary kayak gini patut dicoba deh. Saya baru tahu tentang konsep ini. Dan sebenarnya kalau di luar negeri, kopi item itu bisa dibilang derajadnya kayak teh tawar di warung2 sekitar kita. Artinya boleh nambah berapapun dan gretongan… Ya mungkin untuk kopi-kopi yang eksklusif yang perlu diracik-racik semisal cappucino, macciato, latte, caffe freddo, affogato, dll… boleh lah kita bayar sesuai kualitas kopi yang disajikan. 😀

15. Comme Un Chef / Le Chef / The Chef (2012)

Ini film yang paling gress kenyes-kenyes. Dan kayaknya gak bakal muncul di bioskop lokal mungkin juga DVDnya gak ada. Hal yang seperti ini yang membuat saya rajin berkunjung ke piratebay dan indowebster. Hahahaha…

Film berbahasa Prancis ini menceritakan tentang seorang ‘uncovered’ chef yang punya determinasi tinggi tentang apa yang dilakukannya. Gara-gara sikap dia yang stubborn dengan teknik memasaknya, dia sampai dipecat 4 kali dalam 4 minggu.

Banting setir demi permintaan sang istri, dia akhirnya menjadi tukang cat. Namun pekerjaan ini justru mempertemukan dia dengan master chef ternama.

Sikap keras kepala itu memang menjaga keahlian dia untuk selalu bisa menyajikan makanan dengan resep yang otentik. Bersama sang master chef dia berjuang untuk mempertahankan prestasi restoran dan nama besar sang master chef.

16. Waitress

Menceritakan tentang seorang wanita yang menjadi pelayan di sebuah restoran pie. Wanita ini memiliki seorang suami yang buli dan bos yang menyebalkan. Sebuah kehamilan membuatnya berkunjung ke sebuah rumah sakit dan bertemu dokter muda yang juga sudah beristri.

Affair? sudah pasti. Tapi sekali lagi bagi saya yang paling menarik tentunya perjuangan si wanita hingga akhirnya bisa membuka toko pie miliknya sendiri. Menarik sekali menurut saya… 🙂

17.  Last Holiday (2006)

Dibintangi Queen Latifah, film ini berkisah tentang seorang yang salah didiagnosa oleh dokter, dibilangnya mau mati dalam waktu dekat. Nah, tokoh utama yang bernama Georgia Bird ini memutuskan untuk sebisa mungkin menikmati hidup. Dia berlibur ke hotel terkenal, menyewa presidential suite, makan di restoran mewahnya, dan bertemu dengan chef idolanya yang sering dilihatnya di tv.

Saat dirinya sadar bahwa ternyata dia sehat wal afiat dan masih bisa hidup sangat lama, dia gembira tapi jadi sadar akan betapa pentingnya menikmati hidup. Living to the fullest, dream the dream. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang koki dan mendirikan sebuah restoran miliknya sendiri.

18. Antique Bakery

Seorang anak kecil pernah diculik oleh seseorang freak yang membuatnya trauma terhadap makanan manis. Kenapa? Karena di memori yang masih menempel di otaknya adalah bahwa penculik itu sangat gemar dengan makanan manis. Sampai anak itu dewasa, dia selalu muntah setiap kali makan makanan manis.

Karena jengah dengan kondisi dirinya yang seperti itu, dia ingin menyudahi traumanya dengan melawan rasa takutnya. Caranya ya berusaha menemukan penculik masa kecilnya itu.

Dia kembali ke tempat tinggalnya dulu, membeli sebuah toko dan mengubahnya menjadi patissier untuk memancing penculiknya. Berhasilkah dia? Nonton ajah… ;p

Ceritanya lucu, konyol, ala korea gitu. 😀

19. Babette’s Feast (1987)

Ini film terfavorit saya. Awalnya saya enggan menengok file yang sebenarnya sudah lama saya download. Karena gambarnya usang. Maklum, film produksi tahun 1987. Tapi setelah memaksa nonton, eh, ternyata bagus. Di youtube ada film ful nya.

Nilai yang paling mengena bagi saya dari film ini adalah konsep ‘one moment in time‘-nya. Kayak lagunya Whitney Houston, dan memang seperti itulah kira-kira maknanya.

Babette dulunya adalah koki utama di restoran si Paris, karena perang dirinya kehilangan segala hal dan mengungsi ke denmark. Bertemulah dia dengan dua wanita tua bersaudara dan tinggal bersama mereka. Babette kehilangan keluarganya semasa perang itu dan satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan negara asalnya, Prancis, hanyalah selembar tiket lotere yang dibelinya sebelum berangkat ke Denmark. Eh ternyata, tiket tersebut menang dan Babette berhak dapat hadiah yang banyak.

Babette senang, tapi karena dia sudah tidak memiliki apa-apa di Paris, maka dia memutuskan untuk tetap tinggal bersama dua bersaudari tersebut.

Hadiahnya untuk apa?
Ternyata Babette mempergunakannya untuk memasak makanan terbaiknya, dari bahan-bahan terbaik yang di datangkan langsung dari Paris, dan diolah dengan kemampuan terbaiknya pula. Kemudian menyajikannya pada orang-orang yang sudah banyak membantunya. It’s really something! Sangat layak dapat oscar. 🙂

20. Le Grand Chef (2007)

Ini cerita tentang kompetisi masak di Korea sono noh, untuk memperebutkan royal knife dari pemerintah Jepang. Dalam kompetisi, biasalah ada keculasan dan kecurangan. Yang menarik dari film ini adalah misteri sejarah masa lalu (masa guru-gurunya para chef masa sekarang) yang penuh dengan pengkhianatan, loyalti, dan kecurangan, yang kemudian bisa ungkap dengan benar dari upaya Seong chan untuk menjadi seorang grand chef.

21. Cafe Isobe

Ini cerita tentang bapak-anak yang tiba-tiba dapat warisan uang banyak dan ingin membuka kafe. Masalahnya itu kafe old style banget. Jadi gak menarik minat pengunjung. Inovasi dari Pak Isobe adalah meng-hire pelayan cantik dan memakaikan baju seksi agar pengunjung pada datang.

Intrik berbalut komedi muncul dari interaksi pelayan-tamu ini. Ada tuh pengunjung yang sukanya cuman pesen air putih, lalu menulis novelnya di sana. Yang ada teranyata dia itu pervert yang hampir ‘menodai’ si anak gadis isobe di tempatnya yang dilengkapi hidden kamera.

Bumbu romantik juga ada dari perasaan si pemilik kafe yang akhirnya jatuh hati sama pelayan cantik yang namanya Motoko itu. Penasaran bagaimana kisah ini berlanjut? Nah, tonton filmnya… 😀

22. Bread of Happiness / Shiawase no Pan

shiawase-no-pan

Ini film oke banget menurut saya. Sederhana tapi menarik. Untuk review film ini, bisa di baca di sini ya? 🙂

~~~~~~~

Nah, demikian sedikit info dari saya, kalau sobat ada Film sejenis yang belum saya sebutin, tolong kasi tahu saya ya… Trims sobat. 🙂

~~~~~~~

Oh iya, ada lagi beberapa film dokumenter dan reality show tv yang pernah saya tonton dan cukup menarik. Diantaranya King of Pastry, Good Eats (I like this so much), Deloghi: Great Italian Cafe, Coffee Prince (tayang di ANTV), dll… 😀

Advertisements

14 thoughts on “Film tentang Makanan

  1. noninot says:

    ane pernah nonton film jepang tentang cewe yang trauma makan kue karena dulu dia gendut,, trus akhirnya dia malah belajar bikin kue sama chef pastry,, tapi lupa judulnya apa,, ada yang prnah nonton juga ga?

  2. Egi david says:

    Referensi dari saya film tampopo film jepang tahun 1985 tentang seorang koki mie ramen amatir yg berguru pada seorang supir, tidak hanya ramen, banyak juga makanan dari berbagai benua tapi yg diutamakan memang masakan jepang. Ada ken watanabe waktu masih muda juga loh, dia jadi partnernya si supir truk itu ^_^

  3. Armilia Sari says:

    Tambahkan film terbaru di tahun 2014 ini, film Hollywood judulnya chef (2014) dan film Indonesia judulnya Tabula Rasa (2014), kedua film itu bercerita tentang masakan/ makanan. 🙂

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s