Manusia dan mimpi

Ketika saya membaca sebuah ulasan perpajakan yang sangat menarik kemudian sampai di akhir kalimat, hal berikutnya yang saya lakukan adalah mencari tahu siapa penulisnya. Dan betapa kagetnya ketika nama yang saya baca itu sangat familiar, dan benar, penulisnya adalah benar teman saya sendiri.

Sejujurnya saya iri. Bagaimana mungkin seseorang yang mendapat pendidikan yang seatap dengan saya, pengajar yang sama, literatur seadanya-yang juga sama, mempunyai pemikiran yang begitu cemerlang. Serta merta kesombongan saya berkoar-koar dalam hati seraya berkata, “Ah, membuat yang begituan mah saya juga bisa.”

Astaghfirullaah…

Saya cuman merasa kecolongan, kalah start, dan saya rasa saya hanya perlu mendalami lagi beberapa peraturan, mengambil kelas tambahan, bahkan kalau perlu mengejar title yang lebih tinggi. All for one reason, i dont wanna left behind…

Astaghfirullaah…Lalu apa yang terjadi ketika saya telah melakukan hal itu semua? Belum tentu saya bisa mengungguli teman itu, karena pastinya dia juga tidak pernah berdiam diri mengejar mimpinya. Bagaimana kalau ternyata saya hanya lari di tempat, atau ternyata saya lebih dahulu dipanggil Sang Khalik sebelum semua yang saya harapkan terwujud…

Astaghfirullaah…

Lebih naudzubillah lagi kalau ternyata saya sadar bahwa yang saya lakukan itu ternyata jauh dari ‘mimpi sebenarnya’ saya.

Astaghfirullaah…

Manusia dan mimpi, saya yakin semua orang didesain untuk satu mimpi yang paling sesuai untuknya. Seorang praktisi ekonomi hebat, belum tentu bisa bermusik selayaknya maestro-maestro konser. Begitu pula sebaliknya. Setiap orang pasti memiliki personal legend(istilah Paulo Coelho)-nya masing-masing.

Nah, bagi saya yang multitasker sejati, mempunyai bakat setengah-setengah di banyak hal, memutuskan untuk tetap dan fokus di satu jalur sangatlah tidak mudah. Saya sih percaya bahwa seberapa jelek bakat seseorang asal fokus dan rajin berusaha, pasti mimpinya terkejar. Maka itu saya perlu fokus dan rajin berusaha kepada salah satu bakat setengah-setengah saya.

Saya tidak ingin ada dualisme di hati saya. Ingin mewujudkan ‘ini’, tapi pikiran sesekali meleng ke arah ‘itu’. Istilah para filsuf, namanya bad faith. Saya harus fokus pada apa yang saya cita-citakan dan saya yakini sebagai personal legend saya.

Catatan ini adalah pengingat untuk diri sendiri (dan semoga juga bermanfaat bagi orang lain… :)).
FOKUS. FOKUS. FOKUS.
Bismillaah…

Advertisements

4 thoughts on “Manusia dan mimpi

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s