Berkarya untuk apa/siapa?

Pikiran akan motif dalam memulai suatu karya kadang membuat saya terlalu lama larut dalam pertimbangan. Motif bagi saya adalah ruh, sebuah jawaban atas pertanyaan “kenapa saya membuat karya” termasuk dalam menulis buku saya yang saat ini sedang saya kerjakan.

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian penulis besar menliskan karyanya karena berbagai alasan yang luar biasa. Ada yang memulai dari kegelisahan akan sistem pendidikan yang kurang baik sehingga muncullah ide berdasarkan pengalaman pribadi penulis untuk membuat sebuah karya novel yang mampu membuat semua mata ‘melek’ akan mirisnya kenyataan dunia pendidikan sekaligus menginspirasi banyak pembacanya untuk tetap berjuang di tengah keadaan yang demikian. Jenis karya-karya tersebut adalah termasuk tetralogi Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, dan lain-lain.

Beberapa penulis lain juga banyak yang memulai karyanya karena sebab miskinnya figur qur’ani atau sosok yang benar-benar Rasulullah likely yang akhirnya membawanya melahirkan figur fiksi seperti Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Mas Gagah dalam cerpen Helvy berjudul etika Mas Gagah Pergi, Azzam dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih, dll.

Lebih luar biasa lagi bahwa sebagian besar, bahkan mungkin ada yang memberikan seluruh royalti dari karyanya untuk kegitan sosial dan pendidikan. Subhanallaah… Motif yang luar biasa bukan?

Oke, sekarangkembali ke pertanyaan pribadi saya sendiri, berkarya untuk apa/siapakah saya ini? Untuk uang, popularitas, gengsi, atau apa?

Saat awal-awal saya memulai karya, tidak pernah ada pikiran untuk macam-macam. Tapi memang setan tidak pernah berhenti menghasut, membelok-belokkan niat untuk selalu menjauh dari ‘rel’ yang seharusnya. Sempat saya berkeingian untuk membeli banyak benda-benda material/keduniaan padahal karya saya belum juga selesai dan belum tentu juga laku di pasar. Hehe…

Well, bukan tidak boleh mengejar dunia, toh kita memang membutuhkannya. Asal yang dibeli itu bukan barang maksiat/haram. Cuman sejujurnya, dalam hati saya sedikit ‘ketakutan’ kalau niatnya tidak baik (bukan untuk mendekat pada Allah) karya saya akan (di)hambar(kan) dan tidak memiliki esensi alias menjadi sastra picisan.

Menulis adalah berjuang.
Kata ini sering kali di ucapkan oleh Bunda Helvy, Kang Abik, dan banyak penulis sastra islam lainnya. Jelas sekali bahwa yang diperjuangkan adalah nilai-nilai islam. Mendidik melalui karya tulis. Bagi penulis lain tentu juga berlaku demikian. Ada yang berkoar-koar dalam karyanya tentang humanisme, feminisme, liberalisme, bahakan pornoisme dan berbagai macam lainnya. Semuanya menjual ide-ide yang ingin mereka susupkan ke otak-otak pembacanya.

Dari sini jelas sekali bahwa sebuah karya atau buku itu tidak lain adalah bentuk perwujudan motif.

Nah, sebenarnya melalui tulisan ini saya ingin menegaskan kembali kepada diri saya pribadi untuk selalu memperbaiki niat atau menata motif agar tidak mudah dibelokkan setan juga agar karya saya selalu membawa manfaat positif bagi pembacanya.

Maka dari itu saya ingin menyatakn disini bahwa tulisan saya adalah untuk kebaikan, menebarkan nilai-nilai entrepreneurship yang islami atau kalau meminjam istilah Kang Jamil Azzaini adalah sukses mulia. Bismillaahirrahmaanirrahiim… 😀

nb: nasihat bagus dari Aa Gym, dlm lagu istighfar
Barang siapa.. Allah tujuannya..
Niscaya dunia ‘kan melayaninya..
Namun siapa.. dunia tujuannya..
Niscaya kan letih dan pasti sengsara..
Diperbudak dunia sampai akhir masa..

Psstt… proyek novel saya bisa dilihat disini ya…? Ikuti terus lanjutannya… InsyaAllah bermanfaat. 😀

*gambar fitur oleh Miftah

Advertisements

6 thoughts on “Berkarya untuk apa/siapa?

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s