Sepotong Petir (cerbung)

Suatu sore yang oranye. Kami baru menerima kabar paling menggembirakan tahun ini, bahwa seluruh siswa kelas tiga lulus semua. Kami bersorak dan berlarian dengan baju yang tercoret cat warna warni. Muka dan rambut tak lolos dari coretan, menyebabkan riuh pelari-pelari itu semakin riang. Beruntung aku tidak punya kendaraan sehingga terbebas dari paksaan teman-teman lain untuk berkonvoi ke jalan-jalan.

Tersisalah aku dan beberapa orang yang tidak ikut konvoi, tapi kami masih punya rencana yang cukup positif untuk dilakukan. Kami mulai keluar dari gerbang sekolah dan bersiap untuk kumpul-kumpul syukuran di salah satu rumah temanku, lalu sebuah sepeda motor matic tiba-tiba melambat dan memanggilku dari kerumunan.

“Mon! Kemon…!” Seseorang berhenti di seberang jalan dengan jilbab lebar yang tertekuk di leher.

“Eh, Fia… Ada apa?” Kataku datang menyambut.

“Bisa ngobrol sebentar?”

“Hmm… kita minggir di bawah pohon itu yuk.”

Gerombolan yang tadi riuh gaduh sekarang mulai tenang. Semuanya masih berkerumun dan memandang searah kepadaku dan Fia yang menepi ke bawah pohon di sisi jalan lain. Sejenak kemudian aku melambaikan tangan ke arah gerombolan, memberi kode agar mereka kembali melanjutkan pesta suka ria tanpa dirinya, untuk sementara.

“Maaf membuat kamu tidak ikut party mereka…”

“Tidak apa-apa, nanti aku menyusul kok. Tadi mau ngobrol apaan?”

“Begini, Ayahku masuk rumah sakit tadi malam, stroke. Itulah kenapa aku tidak masuk tadi waktu pengumuman kelulusan.”

“Innalillaah… terus bagaiman sekarang keadaannya sekarang?”

“Ini serangan ke tiga dalam tiga bulan terakhir dan yang terparah. Namun bukan itu yang sangat membebani pikiranku sekarang.” Fia menghela sedikit nafasnya.

“Ayahku memintaku untuk segera menikah.”

Glek! Aku menelan ludah. Serta merta logikaku melompatkan sebuah pemikiran yang terlalu jauh kedepan, mereka-reka bahwa terkandung maksud di pembicaraan gadis ini. Apakah sebentar lagi dia akan memintaku menikahinya.

“Kok bengong?”

“Eh, maaf. Iya… terus gimana? Emangnya kamu mau segera menikah?”

“Ya enggak lah. Aku masih mau kuliah dan mengejar mimpi. Tapi aku juga tidak mau durhaka kepada orang tua. Bagaimana kalau ini adalah permintaan terakhir Ayahku? Aku akan sangat menyesal kalau sampai Ayah pergi, aku tetap egois, dan tidak mau menuruti keinginannya.”

“Hmm… aku belum ada ide untuk membantumu,” ucapku lirih sambil meneruskan pembicaraan di dalam hati: dan jangan dulu kau minta aku menikahimu… aku belum siap… hiks.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bercerita ini kok. Kita kan udah sekelas sejak kelas satu SMP, masuk SMA bareng, sekelas terus lagi sampai hari ini lulus. Tidak terasa sudah enam tahun kita selalu sekelas ya.”

Seperti ada beban dari pikiranku sendiri yang membuatku tertunduk diam. Entah terlalu gede rasa atau memang intuisiku yang jitu, aku merasa ini adalah sebuah pengkodean. Aku mencoba tenang padahal pikiranku meletup-letup dengan banyak perekaan. FIA MEMINTAKU MENIKAHINYA!

“Woi! Aku tahu yang kamu pikirkan. Jangan ge-er ya!”

Ups, aku lupa kalau kami telah lama kenal dan harusnya aku sadar akan kemampuan Fia yang kusebut super empati tetapi dia mati-matian menamakan itu kemampuan membaca pikiran orang lain. Termasuk yang ada di otakku ini.

Ah, kenapa pula ditegaskan seperti itu. Atau tunda lah barang sehari atau dua hari untuk menegaskannya. Biarkan dulu aku menebak-nebak (dan berharap) benar. Paling tidak kan aku punya ‘sesuatu’ untuk membuatku senyum-senyum sendiri dan melengkapi perayaan kelulusan ini.

“Aku cabut lagi ya Mon, mau pulang ke rumah, ngambil beberapa baju buat ibu yang nemenin Ayah di rumah sakit. Bye Kemon, Assalamu’alaikum…”

“Iya, wa’alaikumussalam… Eh, selamat ya, kamu dapet peringkat pertama…”

“Yo’i… makasih…!!!”

Motor matic itu berlalu dengan tarikan gas yang menderu kencang. Senada dengan teriakan terakhir pengendaranya. Gadis ini, sisi premannya belum hilang juga, batinku.

***

Namanya Rufia dan biasa kupelesetkan sehuruf nama itu menjadi (tali) Rafia, dan namaku sendiri adalah Remon yang juga terpelesetkan sehuruf hingga jadi Kemon. Sama-sama berawalan ‘R’, otomatis sejak enam tahun lalu, kami adalah partner sejati dalam daftar absensi. Tentunya itu berakibat pada seringnya aku berinteraksi dengan dia karena tugas-tugas kelompok yang pembagiannya sering melalui comot-comot beberapa nomor absensi.

Dulu aku pertama kali melihat Fia dengan rambut ikal panjang yang di kepang dua. Kepangan itu cukup besar menunjukkan betapa lebat rambutnya. Kulitnya hitam sehingga ketika memakai rok biru yang masih baru, kehadirannya jelas cukup memaku pandangan ke arahnya.

Dan kenangan terakhir di masa sekolah yang tak akan kulupa tentang dia adalah ketika dia yang saat itu menjabat sebagai ketua kelas, tiba-tiba mengajukan namaku sebagai salah satu calon ketua OSIS di SMA. Ketika kutanya tentang alasannya mengirimkan namaku, dengan enteng dia menjawab,

“Karena setiap kelas wajib mengirim satu calon dan menurutku kamu yang paling paling cocok.”

Tetapi bagaimana mungkin? Aku tidak terlalu populer di sekolah, teman-temanku hanya segelintir orang yang juga bukan penghuni kasta siswa yang patut diperhatikan. Tampang jauh dari standar, kaya juga enggak. Apa daya tarikku untuk menang? Huh, ide gila.

Merasa percuma untuk mengelak lagi dari pencalonan, saat aku bertahan dengan muka manyun pada Fia. Namaku sudah masuk dalam daftar calon yang akan dipanggil untuk wawancara dan orasi minggu depan. Tidak ada jalan kembali. But hey, setidaknya ada yang melihat bakat kepemimpinan dalam diriku. Haha… Akhirnya ada juga yang melihat kelebihanku. Setidaknya pemikiran seperti itu bisa sedikit menghibur. Yah, sampai akhirnya kudengar penjelasan lanjutan dari Fia bahwa yang dimaksud paling cocok adalah yang paling berkesempatan untuk kalah.

“Ya, ngapain juga kita jadi pengurus OSIS beneran. Mending kita ini belajar buat kelulusan. Makanya gue pilih lo. Kan udah pasti kalah…” Buset, terang-terangan dia mengatakan itu di depan kelas. Well, oke, baiklah, inilah diriku, tumbal sempurna untuk menyelamatkan khalayak yang ingin serius belajar agar lulus ujian.

Seminggu berlalu dan aku berhasil melalui test wawancara dengan baik. Jelas saja, pewawancaranya sendiri adalah pengurus OSIS periode sekarang yang akan berestafet kepemimpinan. Mereka duduk di kelas tiga dan berarti satu angkatan denganku. Tak ada grogi sedikitpun sehingga semua pertanyaan dapat kujawab dengan lancar. Dan aku lolos ke sesi berikutnya.

“Gila, ngapain lo lanjut?” Tanyanya sewaktu pulang sekolah bareng.

“Nah, bukannya elo yang nyalonin gue? Lo harusnya bangga dong, pilihan lo sangat tepat. Pemimpin sejati…” aku nyengir kuda. Fia manyun sapi, sebentar lagi mungkin akan melenguh… Mooaa…

“Aduh, gue terlalu underestimate sama lo. Kirain lo bakal langsung gagal gitu…”

Sebel memang. Dan hal-hal seperti ini lah yang banyak kurasakan dalam suatu relasi super aneh selama enam tahunan ini. Namun satu sisi juga aku tidak pernah menyesal bisa selalu bersamanya. Fia itu seperti sambal bajak bikinan ibu, tidak pernah membuatku bosan meski selalu membuat mulutku, perut, hingga bawah perut sepeti terbakar. Kesengsaraan yang melenakan.

“Eh, ada truk molen diparkir di depan sekolah.” Kataku sepulang sekolah.

“Oya, untuk apa ada disitu?”

“Buat ngecor setengah badan lo di tengah lapangan upacara!”

Puas! Sumpah, aku akan puas sekali kalo dialog yang terjadi seperti di atas. Namun kadang sisi lemot seseorang itu bisa membalik serangan intelektual menjadi bom yang menyebalkan. Bukan dialog itu yang terjadi, tapi yang seperti di bawah inilah yang sebenarnya terjadi.

“Eh, ada truk molen diparkir di depan sekolah.”

“Oya, Besar dong. Enak gak?”

“Bukan makanan! Itu molen untuk bikin adonan semen…!”

“Owh. Itu mobil jemputan elo…”

Arrgghh… Ada malaikat gak sih di sekitar sini? Pesen petir dong satu. Yang sejuta Volt aja. Dikirim langsung ke telinganya Fia. Ga pake lama ya…

*to be continued yakkkkk….

Advertisements

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s