Mengelak dan Tak Tertolak (cerpen)

Bagi mereka, waktu adalah ukuran. Bagi yang lain waktu adalah perbandingan batas, jeda, dan durasi. Bagi sebagian lagi waktu adalah ruang, memiliki jarak, dan tetap relatif. Bagiku, waktu adalah: entah

Aku seorang eksekutif muda yang kurang mengenal definisi waktu. Yang aku tahu bahwa ia selalu bergerak. Lebih tepatnya berdetak seirama dengan jam Omega di tanganku. Aku tidak mengenal awal dan akhir sebuah hari. Aku tidak mengatakan bahwa mengucek mata di pagi hari dan perbaringan badan di malam yang lelah adalah awal dan akhir hari. Mereka hanyalah bagian dari aktifitas yang berkelanjutan. Dan jelujur tubuh yang tak berdaya di bawah kesadaran, apakah dia lepas dari hitungan waktu? Hanya mereka yang tahu yang masih beraktifitas bahkan dalam tidurnya.

Hoahm…

Pukul dua pagi. Aku terbangun setelah dua jam tertidur di sofa ruang tamu. Aku kemudian duduk dan memandang kosong. Rasa kantuk telah sirna. Kulihat sekeliling, tidak ada sesuatu hal yang cukup menarik untuk dikerjakan. Seluruh jaringan motorikku sepertinya masih lelap, namun entah mengapa beberapa jaringan itu menegang di daerah mata. Membuatku susah untuk terpejam kembali.

Sejenak kemudian mataku tertambat pada sebuah angka yang kulingkari di kalender. Ya Tuhan, dia akan segera datang. Kontan mataku semakin lebar terjaga. Aku segera beranjak dalam sepenuh kesadaran yang goyah. Itu adalah tanggal kedatangan seorang tamu. Dan dia akan datang sebulan lagi. Oh my… secepat itu kah dia akan datang kembali?

***

Kedatangannya ini membuatku sangat murung. Pikiranku masih tertuju pada sebuah angka yang terlingkari itu. Seandainya sanggup, aku ingin sekali menghindari kedatangannya. Namun rasanya susah.

Aku tak bisa lepas dari memikirkannya. Semakin kupaksa melupakan, semakin lekat hal itu di pikiranku. Dan seperti ada yang mencuri waktuku, atau mungkin mencuri kesadaranku, oh no, ini lebih seperti seluruh elemen alam telah berintegrasi dan berkomplot untuk menyegerakan kedatangannya. Yang jelas, hari kehadiran dia disini semakin cepat mendekat.

Ternyata waktu berjalan tidak sekonstan itu. Ia melembam dalam sebuah dilatasi. Dalam segenap kesadaranku aku merasa tidak bergerak melebihi cahaya, hanya saja aku seperti terikat dengan dimensi tak bermassa. Aku larut dalam alur dunia samping. Mengalun bersama gelombang partikel. Hingga akhirnya aku sadar dan sampai pada sebuah titik waktu saat ini. DIA AKAN DATANG, DUA JAM LAGI!!!

Sebenarnya aku tidak memilik masalah dengannya. Hanya saja eksistensinya itu sangat mengerdilkanku dan membuatku tidak nyaman. Dia melipat gandakan ganjalan-ganjalan hati yang membuat hariku sangat berat. Terakhir kedatangannya sekitar setahun yang lalu, dia berhasil menjerumuskan aku dalam rasa bersalah yang luar biasa. Dia datang dengan wajah yang tenang dan damai. Kalau di kampung sana, aku tahu betul keluargaku sangat riang menyambut ketika ia datang ke sana. Kalau perlu, mereka akan berhias jiwa-raga sampai berbenah rumah. Tapi disini, aku sangat gusar.

***

Aku ingat, dulu sewaktu aku masih kecil aku bersahabat sangat baik dengannya. Hari-hari yang kulalui dengannya sangatlah menarik. Beragam kegiatan baru kulakukan, benar-benar beda dengan hari-hari sebelumnya. Dia memang spesial.

Namun sekarang, aku lebih banyak khawatir akan kehadirannya. Gara-garanya, suatu kali aku pernah mengacuhkannya karena kesibukanku dengan pekerjaan yang baru aku dapatkan. Hingga akhirnya, aku benar-benar mengabaikannya.

Beberapa kali dia datang, aku tidak pernah memperdulikannya, bahkan aku menghina kedatangnnya dengan sebuah konfrontasi. Didepannya, aku melakukan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan hakikat dirinya. Mungkin aku sengaja melakuakannya untuk membuatnya agar dia membenciku. Agar ia tidak lagi berteman denganku dan melupakanku. Namun rupanya dia begitu sabar. Ia tak pernah berhenti mengingatkanku. Mengajakku bersamanya bermain seperti dulu. Seperti masa kecil itu.

***

Hai LOGIKA. Aku menantangmu dengan sebuah pernyataan kecil, “Apa yang kurang dalam hidupmu?”

Tak pelak seluruh saraf mengejang. Meski berjuta alasan mampu mereka hadirkan, namun alasan itu luluh oleh satu bisikan serupa, yang muncul dari banyak tempat. Dari denyut jantung yang terus berdetak, dari nafas yang selalu menghembus, dari jutaan imaji indah yang tercetak di retina, dan dari banyak hal yang tak tersebut jumlahnya. “Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?”

Otakpun luluh, berputar berlawanan dengan arah logika. Segala usaha dan daya upaya yang membuatku merasa “berhak” atas segala jabatan dan status, ternyata tak lebih hanya sebagian unsur saja. Sekarang aku tahu bahwa kerja keras itu sangat relatif terhadap keberhasilan. Meski bagi sebagian manusia menganggapnya sebuah kemutlakan, namun ternyata ada konstanta lain dalam formula materialisme. Ialah ijin-Nya yang tiada siapapun yang bisa memungut apa yang tidak Ia berikan dan menolak apa yang telah Ia tebarkan.

***

Sekarang aku tidak harus berlari darinya. Dia akan datang dan tak mungkin tertolak. Aku memutar palingkan wajah ke hadapannya. Aku mencoba meninggalkan segala rasa malu dan bersalah, lalu metapanya dengan segala kesadaran yang kupunya.

Di satu jarak waktu yang sepi, di awal kedatangannya, hanya ada aku dan dirinya.

Aku bertanya dalam diam. Menggugat segala rasa yang meresahkanku selama ini dan menudingnya sebagai penyebabnya. Dia juga diam. Namun entah apa yang dilakukannya, sejenak kemudian aku tersungkur dan menangis sejadinya. Aku memukul-mukul tanah. Dan tumpahlah segala gundah yang selama ini menyesak.

Pertanyaan yang terlontar itu memantul kembali ke hatiku. Mulutnya diam, namun seketika hatiku serasa penuh dengan jawaban. Kepasrahan dan kesadaran betapa kecilnya diri ini, menepis habis ruang untuk kebohongan. Aku tidak mengalah, tapi siapapun yang berani bertanya kepada hati pasti menemukan ketidakberdayaan keangkuhan. Maka seberapa besar namamu akan luluh oleh kebenaran sejati.

***

Bagai sebuah pintu, dia tidak pernah tertutup. Selalu terbuka bagi siapapun, bahkan yang tidak pernah mengetuk. Ia menunggu suatu saat kita akan menoleh padanya, untuk sekedar sadar akan kehadirannya, lebih syukur lagi kalau kita mau masuk ke dalamnya.

Setiap langkah semenjak kaki pintu itu terlewati, kita akan terdera ketenangan yang teguh. Bagai buaian kasih ibu, ia begitu menjaga. Aman. Indah. Bahagia.

***

Dear Ramadhan…

Kau datang lagi tahun ini. Kita akan merajuk kembali hari-hari dulu yang indah. Memupuk iman setebal mungkin. Berlomba lari mengejar ridho-Nya.

Ya Rabb, terimakasih telah mempertemukan aku kembali dengannnya.

Ramadhan…

[Memoar. Jakarta Juli 2011]

Advertisements

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s