Diskusi dengan Ayah: setiap manusia sudah ditentukan ke surga atau ke neraka.

Suatu kali saya sok-sok an merenung bak filsuf ulung, lalu mentok pada keruwetan pikiran saya sendiri. Hah… kadang memang saya beranggapan bahwa para filsuf itu adalah orang paling makmur di dunia. Kerjaannya cuman berfikiiiiiirrr mulu dan menciptakan teori yang terkadang (menurut saya) bukan malah mencerahkan tapi bikin bingung. Namun saya tidak mau ikutan berfikir sangat keras seperti mereka, saya berusaha memahami semampu saya dan saya membagi pemahaman saya di sini sesuai dengan apa yang saya pahami saja. Jadi kalau ada yang bingung atau tidak setuju dengan saya, tidak apa-apa, bisa kita diskusikan bersama.

Satu hal lagi yang perlu ditekankan, ada kebebasan dalam memilih agama, namun tidak ada kebebasan untuk merubah-rubah agama. Jika Islam menjadi pilihan anda, maka taatlah, atau silahkan pilih agama lainnya.

Hmm… sebenarnya hal diatas antara nyambung dan enggak dg diskusiku dan Ayah, tapi biar aja lah… sayang untuk di hapus.

Nah ini dia diskusinya: suatu kali saya bertanya kepada Ayah saya, “Jika memang seluruh nasib manusia itu telah ditentunkan akan ke surga atau neraka (tercatat di lauhul mahfudz), berarti orang yang sudah di tetapkan masuk neraka engga perlu beribadah donk. Toh, sekeras apapun dia beribadah, namanya sudah dikavlingkan di petak neraka.”

Lalu saya tambah lagi pertanyaan saya, “Dimakah letak kebebasan manusia itu? Masih bisakah dia memilih untuk merubah nasibnya agar bisa masuk surga?”

Jawab Ayahku, “Tidak bisa. Yang sudah tercatat ke neraka akan pergi ke neraka. Yang tercatat di surga akan pergi ke surga.”

Aku masih bingung dengan jawaban Ayahku, lalu beliau melanjutkan,

“Manusia bebas untuk memilih dan berbuat apapun di dunia ini. Namun Allah yang Maha Tahu telah mengetahui ending dari segala pilihan manusia itu, makanya segalanya telah tercatat dalam Lauhul Mahfudz. Dari sini semua manusia itu menjadi ‘telah pasti garis hidupnya’. Manusia yang di catat ke neraka ya berangkat ke neraka dan yang ke surga ya berangkat ke surga. Itu tidak akan bisa dirubah.”

Hmm… aku manggut-manggut dengan penjelasan Ayah barusan. Nah, kalau kita tidak tahu apakah kita tercatat di surga atau neraka, gimana donk? apa yang harus kita lakukan?

“Yang paling ingin dilakukan sih mencari tahu, tetapi Allah baru bersedia memberi tahu setelah kita mati. Karena itu kita hanya bisa mencari tahu, ‘setelah mati orang-orang pada ngomong apa sih?’ Ternyata orang-orang yang masuk surga mengatakan bahwa Allah telah menolong mereka tetap dalam keimanan meski kehidupan dunianya penuh cobaaan, sementara orang-orang yang masuk neraka mengaku bahwa mereka di dunia memang tidak mau tunduk kepada Allah. Dan dari dialog mereka, tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa ‘itu semua terserah Allah kok’. Semua orang yang masuk neraka menyesali diri, tidak menyesalkan Allah. Mereka bilang, ‘andai dulu kami shalat, andai dulu kami berzakat, dsb’, dan mereka tidak bilang ‘duh Gusti, Kamu kok kejam sekali sih?’ Jadi kalau kita di dunia lebih baik memilih jalan surga dan setiap pengen meninggalkan Allah segera mohon ampun dan mohon pertolonganNya agar bisa istiqamah…”

Hmm… oke lah kalau begitu.

Advertisements

One thought on “Diskusi dengan Ayah: setiap manusia sudah ditentukan ke surga atau ke neraka.

  1. didisederhana says:

    Iya…. jangan pernah meninggalkan ibadah….

    Btw abi juga baru ditegur dengan lepasnya salah satu kuku kaki. Astaghfirullaah… sakitnya….. mungkin peringatan dari Allah agar kalau jalan lihat-lihat….

Silahkan sampaikan komentar sobat...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s